Kita Hidup di Dalam Sekotak Lego

Peringatan: tulisan ini terdiri 1490-an kata, bisa dibaca 10-15 menit. Agak mudah dibaca di depan, agak njelimet di belakang, tapi hepi ending.

Ini ucapan lebaran 9 tahun lalu.

Idul Fitri terasa datang terlalu cepat. Atau, bulan puasalah yang tampak terlalu singkat. Belum tuntas rasanya aku merasakan hawa bulan Ramadan, melongok keluar jendela di pagi buta saat ada konvoi sahur (yang jebul kali ini cuma sesekali dilakukan di tempatku), ikut merasa lega saat azan Maghrib, dan eh sekarang sudah lebaran. Dar der dor mercon semalam, beberapa suara takbir, terus selesai. Meskipun kata orang mercon kali ini lebih banyak dan lebih besar-besar, tapi toh seperti ada yang dicuri dari lebaran kali ini. Bagi banyak orang, sesuatu yang dicuri itu adalah kesempatan bersilaturahmi. Jelas! Bagi beberapa orang lain lagi adalah hilangnya rasa klimaks setelah sebulan puasa, sehingga layak dihadiahi libur panjang plus belanja gila-gilaan atau bermain ke sana sini hingga kartu ATM jebol. Tapi bagiku – yang kebetulan tidak berpuasa – sesuatu yang hilang itu adalah penanda bahwa ini adalah lebaran.

Setelah berusaha mengingat-ingat dan merasa-rasakan, ternyata – bagiku – penanda lebaran yang paling kuat adalah mal dan swalayan. Dendang lagu lebaran, super-sale, hot-sale, ucapan selamat yang menggantung di sana-sini, ketupat imitasi yang dihiasi warna-warni, dan belanja biskuit serta sirup. Siapa tahu ada tamu yang mampir. Mal dan swalayan memang luar biasa. Memang ritual itu akan powerful jika disandingkan dengan konsumsi. Makanya “last supper”-nya Yesus jadi kondang dan diulang-ulangi terus dengan mudah. Karena ya itu … “last supper” pada dasarnya adalah supper. Makan-makan! Dan di mal, lebaran ini jadi kekurangan amunisi gara-gara konsumsi menurun, perekonomian belum pulih, dan pembatasan fisik masih berlaku. Buat apa beli baju baru jika tidak akan ketemu orang, buat apa beli biskuit banyak-banyak jika tidak ada tamu. Mungkin begitu nalarnya. Namun, dengan nalar yang nyaris sejalur, aku menemukan penanda lawas akan lebaran. Penanda yang tanpa kuduga masih kurasakan getarnya: ketupat!

H-1 lebaran, pagi hari, belum mandi, kami – aku dan istriku – mencari lontong ketupat. Terlambat menyadari bahwa ketupat akan diburu oleh jutaan emak-emak, maka kami sudah cukup puas “hanya” berhasil memperoleh 30 buah ketupat kecil-kecil yang setengahnya berwarna hijau alias made from “blarak”, not “janur”. Itupun setelah menyambangi 4 pasar dan tak kurang dari 7 pedagang ketupat yang dagangannya ludes. Setelah kami beli, tak ada ketupat yang tersisa. Dengan kata lain, ketupat yang kami beli ini adalah sisa-sisa. Tapi okelah! Yang penting bentuknya ketupat, bukan lontong, bukan arem-arem. Meskipun aku bukan penggemar ketupat, tapi karena ibuku sudah wanti-wanti dibelikan ketupat untuk lebaran, maka misi kali ini lumayan accomplished-lah. Meskipun perolehan di bawah target dan harganya 2-3 kali lebih mahal ketimbang biasanya. Alhasil, kami membawa ketupat ke rumah ibu, lalu kami pulang, mandi. Di jalan, di sela capek setelah berburu ketupat, aku menyadari bahwa perihal ketupat ini membuatku semakin merasakan bahwa ini adalah hari-hari lebaran. Hari raya! Aku jadi teringat bahwa mendiang bapakku dulu pintar membuat ketupat, walau tidak pernah menerima pesanan. Ketupat buatan bapakku dulu besar-besar, rapih, dan bisa berbentuk macam-macam. Di mataku yang blo’on ini, itu adalah karya seni. Sayang, seperti semua anak, sewaktu kecil kita selalu merasa bahwa orang tua kita abadi, sehingga tidak setitik pun niat untuk mengabadikan ketupat buatan bapakku.

Aku tidak punya foto ketupat, tapi foto ini menarik. Jenang sumsum, mutiara, dan potongan ubi. Nyam nyam.

Dalam waktu singkat, ketupat yang dalam keseharianku lebih dekat dengan “lotek” dan “kupat tahu” itu, berubah makna menjadi “lebaran” dengan segala gimmick serta narasi yang menyertainya: manis maupun getir. Konon, penanda itu memang dinamis dan arbitrer. Tapi kali ini, uniknya, bukanlah petandanya yang bergeser. Melainkan kebutuhan akan penanda menyebabkan aku “menciptakan” ketupat alih-alih hiruk pikuk mal dan swalayan. Petandanya relatif tetap, akulah yang mencari-cari penanda: dari penanda yang satu ke penanda yang lain. Alhasil, menggelindinglah aku dari strukturalisme ke pos-strukturalisme. Dunia ketika hukum-hukum alam yang sahih ribuan tahun dipertanyakan ulang.

Saat ini, kita melihat penanda-penanda yang bergeser, saling meniadakan, dan saling berusaha eksis. Kadang sebagian dari kita terbujuk untuk berjuang demi penanda itu. Padahal, bisa jadi petandanya tidak berubah. Sebagaimana mal, swalayan, dan ketupat, Covid-19 berubah dari sekadar fenomena pandemi menjadi penanda yang di dalamnya mengandung apa saja: konspirasi negara-negara maju di saat ekonominya stagnan, konspirasi RRC dalam menguasai dunia, konspirasi Yahudi dan freemason demi new order era, sampai ke teori Jayabaya (teori!) dan Nostradamus mengenai liminalitas peradaban. Pertanyaannya adalah, apakah yang menjadi penanda sebelum Covid-19? Ternyata barangkali penandanya adalah Dollar, flat earth theory, dan sebangsanya, yang kalau dirasa-rasakan maka ujung-ujungnya adalah betapa tidak pe-de dan malu-malu(in)nya bangsa kita (yang stereotipe-nya: Asia Tenggara, miskin, dunia ketiga, pernah dijajah, inferior) sehingga tidak mampu memandang dirinya tanpa tidak menciptakan kambing hitam terlebih dahulu. Covid-19 berubah dari horor menjadi teror. Jika horor bisa “disembuhkan” dengan memberani-beranikan diri, maka teror harus disingkirkan, harus dilawan, kalau perlu difitnah (biar lebih kejam daripada pembunuhan). Karena teror itu akan mengejarmu hingga kemana pun!

Tapiiiii …. teror itu hanyalah penanda: kehilangan sengatnya jika kita melakukan signification ala Barthes misalnya. Kita bongkar dan susun ulang saja. Masalahnya mungkin akan ada yang mengajukan pertanyaan lawas: duluan mana, petanda atau penanda? Mungkin ada yang akan bilang bahwa tentu petanda lebih dulu dong. Penanda dibuat kemudian. Bukankah demikian logika material: ada api sebelum kata “api”, ada cinta sebelum kata “cinta”. Tetapi ternyata tidak selalu persis begitu. Bisa jadi ada sebuah gudang besar berisi banyak sekali penanda, dan kita tinggal memilih mana yang pas sesuai kebutuhan. Kebutuhanku sudah ada sebelum aku berjumpa dengan penanda – kendati mungkin penanda itu sudah ada sebelum kujumpai.

Covid-19 bukan satu-satunya penanda yang mutakhir. Bersamaan dengan datangnya gelombang pandemi, kita mendengar istilah lock down, PDP, ODP, rapid test, swab, Satgas Covid, PSBB, social distancing, physical distancing, kurva pasien positif covid, dan seterusnya. Kita kini mengenal yang namanya herd immunity theory dan new normal. Di antaranya, kita mendengar perdebatan konyol antara “mudik” dan “pulang kampung”. Sampai sini, kita bersama-sama menyaksikan bahwa kita semua – setelah terlatih di Pilkada dan Pilpres – mulai memanfaatkan fenomena penanda ini. Lalu simsalabim, muncullah simpang siur: “Bukan lock down tapi PSBB-lah yang benar”, “bukan PSBB, tetapi semi-PSBB”, “PSBB akan dilonggarkan” (padahal belum diterapkan), “bukan mengubah kebiasaan tetapi melakukan new normal”, “bukan mengabaikan ancaman Covid, tapi melakukan new normal”, dan sebangsanya. Itu belum sampai gagu-nya beberapa anggota legislatif dan tokoh publik yang merasa tidak perlu melakukan protokol Covid-19 lantaran dirinya adalah pejabat. Penanda “pejabat” dan “public figure” masuk ke dalam konfigurasi penanda-penanda yang menyertai pandemi ini. Diksi dan bagaimana lema tersebut dipopulerkan serta diarahkan untuk menuju suatu “kebenaran” (yang who knows) benar-benar diperhatikan dalam rangka “mengendalikan pandemi covid-19”.

Dengan melihat kebiasaan dan ulah orang-orang yang akrab di layar TV, maka diksi yang pas sebagai suatu penanda selalu tidak pernah terlepas dari urusan ekonomi dan politik. Bahkan mungkin ada benarnya pula bahwa basis-nya tidak boleh tidak adalah ekonomi seperti kata sebuah teori lawas. Untuk itu, mungkin ada baiknya kita sedikit bereksperimen, yaitu menempatkan segala penanda yang kita kenal tersebut dalam konteks ekonomi (dan politik jika memungkinkan). Misalnya, apakah kaitan konsep Covid-19 dengan ekonomi? Jika petanda yang dibawa penuh konspirasi, mungkin itu adalah akibat kegerahan kaum-kaum pinggiran yang lapar akibat kue ekonominya direbut Barat selama ratusan tahun terakhir. Mengapa Cina dan Yahudi sering disalahkan? Mungkin karena seorang anak akan lebih suka memukul saudaranya apabila merasa orang tuanya tidak adil; karyawan yang tidak puas dengan bosnya lebih suka melakukan KDRT terhadap istrinya ketimbang terang-terangan melawan bosnya. Misalnya lagi, dari sudut pandang ekonomi, mengapa pemerintah “mengharamkan” lock down, dan memilih PSBB yang kadang (maaf) setengah hati? Karena ekonomi harus berputar. Ekonominya siapa? Ekonomi kerakyatan yang didorong dengan BLT yang berisiko menuai inflasi? Apakah ekonomi itu? Sederet angka di GDP? Nilai tukar rupiah? Cadangan devisa? GNP percapita?

Tiba-tiba kita semua seperti hidup di dalam kotak lego, berisi ratusan bahkan ribuan puzle yang bisa kita bentuk menjadi apa saja. Sayangnya, potongan-potongan itulah yang sering kita perebutkan, kita perdebatkan, dan tidak menghasilkan apa-apa. “Tidak produktif,” begitu kata teman saya yang suka menggunakan kalimat itu untuk mengomentari apa saja yang tidak sesuai dengan keinginannya. Tapi ini memang tidak produktif. Karena “hanya” menghasilkan kata-kata, penanda, dan debat kuda. Memang, kata sebuah teori, penanda inilah yang mendekatkan kita akan pemuasan hasrat. Tapi sebentar. Jika dikaitkan dengan covid-19, kita tak bisa membunuh SARS-CoV-19 dengan penanda. Kita juga tak bisa mengisi perut kita dengan penanda. Sementara penanda yang sekiranya mendorong kita melakukan hal-hal yang bisa melawan Covid-19 atau rasa lapar – misalnya – justru dipermainkan begitu rupa untuk kepentingan “penanda” yang lain: ekonomi dan politik. Ternyata saudara-saudara … saya (karena aku takut mengatasnamakan rakyat) di sini hanyalah menjadi sekadar penanda yang lain untuk menggenapi untaian penanda lain yang sudah kadung diciptakan demi “kemajuan”.

Kata-kataku yang njelimet di atas sebenarnya hanya berujung pada pertanyaan yang sederhana. Jika kita berani melupakan semua kata-kata – atau setidaknya kata-kata dianggap tak lagi penting – apakah kita semakin menemukan diri kita apa adanya, atau justru semakin terasing lantaran telanjur terlalu lama berpikir dan bertindak tidak berdasarkan apa yang di depan mata? Ingat: teror, asumsi, ketakutan, dan bla-bla-bla lainnya itu hanyalah penanda; kehilangan sengatnya jika dibongkar. Bukan berarti diabaikan. Bagaimanapun juga, padi masih bisa menguning, ubi masih tumbuh, hujan masih mengguyur, anak-anak masih bermain mercon, kita masih bernapas, dan otot-otot kita bersenandung kala diajak berkeringat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: